EDISI REVISI
MTsN 1 SUMBAWA

BERITA


ARTIKEL---NILAI PENDIDIKAN AMALAN HATI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Eksistensi hati adalah laksana raja pada tubuh manusia. jika ia baik maka baiklah seluruh raga manusia itu, sebaliknya jika hatinya rusak maka rusaklah jasad itu.

Urusan hari adalah urusan yang sangat halus. karena selain hati juga ada qalbu, kabid, ada latif ada juga fuad, dan sirr di dalamnya yang mendampingi hati.  karenanya tak satupun yang akan mengetahui apa isi hati seseorang secara utuh. ada yang mengatakan jika dilihat dari gejala mungkin saja tersurat secara gestur bisa dibaca hatinya, namun suara hati  apalagi suara hati kecil yang tak bisa bohong tak bisa ditembus. tapi yang paling penting tidak dikatakan hati manakala ia tidak berbolak balik.  di hati itulah adanya niat yang akan menghantarkan pahala dan dosa.

dalam urusan niat ada yang berpendapat perlu dilafazkan sebagai taukid. ada juga yang mengatakan tidak perlu karena Allah Maha Alim tentang hal itu.

Niat bukanlah hanya sekedar mengucapkan lafaz , "saya berniat" atau menetapkan suatu kejelasan amalan hati (qasad,ta'rad dan ta'yin) setelah azam, tetapi ia adalah merupakan dorongan hati yang terjadi seperti datangnya sesuatu dari Allah. Terkadang niat ini mudah dilakukan dan di lain waktu sulit dilakukan. Barang siapa yang hatinya selalu terpusat pada urusan agama, maka ia akan merasakan kemudahan dalam menghadirkan niat untuk melakukan segala kebaikan, karena pada asalnya hatinya selalu condong pada kebaikan, sehingga hatinya akan selalu terdorong untuk melakukan hal-hal yang terpuji. Sebaliknya, barang siapa yang hatinya selalu condong kepada keduniaan, maka tidak ada kemudahan baginya untuk hal itu, bahkan tidak mudah baginya untuk melaksanakan kewajiban kecuali dengan usaha yang keras.

Simaklah sebuah hadits yang Diriwayatkan dari Sahabat rasulullah Umar bin Khattab ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Segala amal perbuatan tergantung niatnya. Seseorang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa berhijrah karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu akan kembali kepada Allah dan RasulNya. Dan barang siapa berhijrah karena ingin memperoleh dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu akan kembali kepada apa yang ditujunya itu." (Hr. al-Bukhari dan Muslim). Imam Syafi'i mengomentari bahwa " Hadis ini adalah sepertiga ilmu".

 Asbabul wurud dari hadits nabi di atas terkait seorang pemuda Makkah yang ikut berhijrah ke Madinah lantaran alasan duniawi yaitu konon ada seorang wanita yang dicintainya.

Kalimat "Segala amal perbuatan tergantung niatnya" memberi pengertian bahwa segala amal perbuatan manusia yang sesuai dengan sunnah (tuntunan) Nabi dapat dinilai baik (berpahala) tergantung pada niat yang baik. Kalimat ini sesuai dengan sabda beliau sallallahu alaihi wasallam :

"Segala amal perbuatan tergantung pada akhirnya". (Hr. Bukhari)

Kalimat "Sesorang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan" memberi pengertian bahwa pahala orang yang beramal tergantung pada niat-niat baik yang terhimpun pada saat ia melakukan satu amal perbuatan.

Pada Kalimat ". Barang siapa berhijrah karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu akan kembali kepada Allah dan RasulNya. Dan barang siapa berhijrah karena ingin memperoleh dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu akan kembali kepada apa yang ditujunya itu" merupakan contoh yang diberikan oleh Rasulullah setelah menjabarkan kaidah pertama tentang niat. Nabi hanya mencontohkan satu amal perbuatan, tetapi berbeda dalam penilaian baik dan buruknya.

Segala perbuatan kemaksiatan tidak akan berubah lantaran niat yang baik. Hendaknya orang yang tidak mengetahui jangan memahami bahwa hal ini bisa saja terjadi karena keumuman sabda Nabi "Segala amal perbuatan tergantung niatnya", sehingga ia menyangka bahwa kemaksiatan dapat berubah menjadi ketaatan karena niat. Sabda beliau "Segala amal perbuatan tergantung niatnya" berlaku hanya untuk dua dari tiga macam amal perbuatan, yaitu : ketaatan dan perbuatan yang mubah (boleh), tidak berlaku untuk yang ketiga, yaitu kemaksiatan. Karena bisa saja ketaatan berbalik menjadi kemaksiatan lantaran niatnya dan perbuatan mubah (boleh) bisa berubah jadi kemaksiatan atau ketaatan lantaran niat. Hal ini berdasarkan hadis dari Abu Dzar Al Gifary bahwa Rasulullah saw. bersabda :

"…….dan pada alat kemaluan seorang terdapat sadaqah, para sahabat bertanya : wahai Rasulullah apakah jika seseorang di antara kami dalam melampiaskan hasratnya mendapatkan pahala ? beliau menjawab : bagaimana menurutmu jika ia melampiaskannya pada hal yang haram, apakah ia akan mendapatkan dosa ? demikian pula jika ia melampiaskannya pada hal yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala." (Hr. Muslim).

Imam Al-Nawawi rahimahullah  berkata : "Hadis ini memberikan petunjuk bahwa segala amal perbuatan yang mubah (boleh) dapat berubah menjadi ketaatan lantaran niat yang benar.

Oleh karena itu berjima’  dengan isteri sahnya dapat dikatakan ibadah jika ia diniati menunaikan hak istri dan mempergaulinya dengan ma'ruf (baik) sebagaiman perintah Allah SWT. atau ia niatkan agar mendapatkan anak yang saleh, menjaga diri (dari kemaksiatan), menjaga istri, mencegah keduanya dari memandang, memikirkan dan menghendaki hal yang diharamkan atau pun maksud-maksud baik lainnya.

Mari kita perhatikan Sahabat rasulullah Muaz pernah berkata : "Sesungguhnya aku mencari ridha Allah dengan tidurku sebagaimana aku mencari ridha Allah di waktu aku terjaga."

Sekali lagi ingatlah kemaksiatan tetap tidak dapat berubah menjadi ketaatan karena niat, bahkan jika kemaksitan itu diniati dengan niat jahat, maka dosanya akan berlipat ganda.

Ketaatan berhubungan dengan niat dalam hal asal keabsahannya dan berlipat ganda keutamaannya. Adapun asal keabsahannya adalah dengan meniatkannya hanya demi beribadah kepada Allah semata dan jika diniatkan karena riya' (pamer), maka akan berubah menjadi kemaksiatan. Sedangkan keberlipat-gandaan keutamaannya itu tergantung banyaknya niat yang baik.

Semua perbuatan mubah (boleh) tergantung pada niatnya atau beberapa niat. Dengan niat, ia dapat berubah menjadi ibadah yang baik dan dapat memperoleh derajat yang tinggi.

Umar bin Khattab ra. berkata : "Amal perbuatan yang paling utama adalah melaksanakan sesuatu yang difardlukan oleh Allah, menahan diri dari sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan niat yang benar pada sesuatu yang berada di sisi Allah."

Ketahuilah Seorang ulama salaf berkata : "Berapa banyak amal perbuatan kecil menjadi besar lantaran niat, dan berapa banyak amal perbuatan besar menjadi kecil lantaran niat."

Yahya bin Abi Katsir berkata : "Pelajarilah niat, karena niat adalah amal yang paling berat."

Ibnu Umar ra. pernah mendengar seseorang yang berihram dan berdoa : "Wahai Tuhan, sesungguhnya hamba menghendaki haji dan umrah."

Lalu Ibnu Umar ra. berkata kepadanya : "Apakah kamu ingin agar orang lain mengetahui (doamu itu), bukankah Allah mengetahui apa yang ada di hatimu ?" Ini karena niat adalah kehendak hati dan tidak wajib melafalkan pada ibadah apa pun.?

Keutamaan niat yang baik adalah baru saja dimulai ia sudah diberikan ajrun (pahala) oleh Allah kendati tidak jadi dilakukan. Contoh ia meniatkan untuk bangun tahajjud, dan lain sebagainya. Berbeda dengan niat jelek dia tidak akan diberi dosa ketika niat tadi tidak dilaksanakan.

Kesimpulannya, dari uraian di atas memang segala sesuatu tidak hanya dengan niat saja tetapi tanpa niat yang suci sesuatu tak akan berarti. Terkait dengan tibanya ramadlan marilah pasang niat yang benar untuk mencari ridla Allah swt semata. Niat ada di hati, hati adalah sentral seluruh jasad. Kendalikanlah hati. Jagalah hati karena ia adalah lentera dalam hidup ini. Jangan berikan ia berkarat. Ia akan bersinar terang manakala terus dibersihkan dengan amal sholeh.

Kesimpulannya adalah niat memberikan nilai pendidikan  yang sangat dalam yaitu sah batalnya dan memberikan vonis sebuah amal akan bergantung kepada niat seseorang hamba. Jadi urgensi niat ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Tentunya hal ini tidak mudah dilakukan karena hati manusia yang mengeluarkan niat itu bisa terkontaminasi dengan berbagai penyakit yang akan mengotori niat itu. Solusinya adalah membersihkan wadah tempat niat itu (hati) dengan kalimat thayyibah berupa kalimat tauhid, tahmid, tahlil, tasbih dan istigfar yang dimulai sejak dini. Mari menjaga niat ketika mau beramal ibadah, jangan sampai kita melakukannya hanya mendapat lelah semata.

Nilai pendidikan yang bisa dipetik adalah bagaimana hati (sumber niat) ini mampu berkontribusi melahirkan amalan sirr yang tak terhitung jumlahnya. Ingatlah Allah SWT tidak melihat kepada jasadmu, bentuk rupamu tapi Allah melihat kepada hatimu (al-Hadits).

amalan hati seseorang kita tidak bisa membacanya, mungkin saja orang yang kelihatannya sederhana lebih banyak pahalanya lantaran hatinya hidup (dawam bidzikrullah) dari pada orang yang hanya berucap namun kosong dari amalan hati.

semoga Allah memberi takaran mizan amal kebaikan yang berlipat ganda di akhirat kelak dengan adanya amalan hati yang hidup. Jangan sampai hati kita mati tak memberi kontribusi amal sholeh. Amalan hati nyaris sering terlupakan. dari itu mari kita mulai menata/menejement qalbui terlebih usia kita sudah lewat empat puluh tahun.

Wallahu’alam bishawab. 


Kontak


Alamat :

Jln. Durian Kelurahan Uma Sima Kecamatan Sumbawa

Telepon :

(0371) 2629137

Email :

mtsnsumbawabesar@gmail.com / info@mtsn1sumbawa.sch

Website :

mtsn1sumbawa.sch.id

Media Sosial :


PTK


Kanwil KEMENAG


PENGUMUMAN ONLINE


PPDB ONLINE


IKLAN ANDA


VIDEO-YOUTUBE_ KARYA SRI WAHYUNI,S.Pd


PETA LOKASI


VISI DAN MISI


PERPUSTAKAAN


KHAZANAH INFO


KALENDER PENDIDIKAN KEMENAG


JADWAL PELAJARAN



BROSUR PPDB 2023-2024


HAB KEMENAG KE-77


BALITBANG KEMENAG


PEMDA SUMBAWA


ARSIP


BUPATI DAN WAKIL BUPATI SUMBAWA



SK PENEGERIAN MTsN 1 SUMBAWA


AKREDITASI MTsN 1 Sumbawa